Masihkah Kita Bersahabat?
By : BRIGITTA RAISSA SAMANTHA GINTING (Brigita)
(Siswi kelas VI SD St. Fransiskus III)
Gita dan Tifa adalah dua sahabat yang telah tumbuh bersama sejak taman kanak-kanak. Bertahun-tahun lamanya, tawa dan cerita menjadi bagian dari hari-hari mereka. Kini mereka bahkan berada di kelas yang sama. Bagi Gita, itu adalah kebahagiaan, juga kesempatan untuk semakin dekat, berbagi lebih banyak kisah, bermain, dan bercanda seperti dulu.
Namun tanpa disadari, semuanya mulai berubah.
Gita perlahan menjauh. Ia tak lagi sering mengajak Tifa berbincang atau sekedar tertawa bersama. Perubahan itu membuat Tifa bingung. Ia tak mengerti apa yang salah, tak tahu harus berbuat apa. Sementara itu, Gita terus bertanya pada dirinya sendiri,
“Apakah ini jalan yang benar? Ataukah aku yang keliru mengambil keputusan?”
Hari-hari berlalu dengan perasaan yang kian berat. Tifa menahan sedih yang tak pernah ia duga akan datang dari persahabatan yang begitu berarti. Ia ingin mengajak Gita berbicara, ingin memperbaiki jarak yang tercipta, tetapi ketakutan menahannya. Ia takut Gita telah membencinya.
Link SPMB SD Santo Fransiskus III TP 202/2027 : https://bit.ly/SPMB_SDFR3
Pertanyaan-pertanyaan terus berputar di kepalanya,
“Apa ini semua salahku? Apa aku terlalu berlebihan?”
Seminggu berlalu tanpa sapaan. Tak ada percakapan. Bahkan tatapan pun terasa asing.
Gita dan Tifa sama-sama terluka, sama-sama merindukan masa lalu, namun karena tak satu pun berani melangkah lebih dulu, mereka membiarkan persahabatan itu retak perlahan. Bukan karena rasa telah hilang, melainkan karena keberanian tak kunjung datang.
“Masihkah kita sahabat, jika rindu masih ada tetapi keberanian untuk saling menyapa justru menghilang?”
Kalimat itu berulang kali terlintas di benak Gita. Ia ingin sekali menyampaikannya pada Tifa. Namun, ketakutan selalu menang. Kata-kata itu akhirnya ia simpan dalam-dalam, tak pernah terucap.
Terkadang, persahabatan berakhir bukan karena perasaan berubah, melainkan karena tidak ada yang berani memulai untuk kembali.
Editor : Pak Will
Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Surat Tua Untuk Ibu Nirmala
Ilustrasi by Gemini AI Oleh: ELORA ABIGAIL BUTAR BUTAR (Elora) (Siswi kelas VI SD St. Fransiskus III Jakarta) Langit Jakarta sore itu berwarna kelabu, sep
SENYUM DIBALIK PAPAN TULIS
By : CATHERINE AZELIA NAPITU (Catherine) Murid Kelas VI SD Santo Fransiskus III Pagi yang cerah menyelimuti kota Jakarta. Sinar matahari memantul pada deretan gedung-gedu
Bunga Yang Tercabut Paksa
By:JADINE GRACIELA CONG (Jadine) Siswi Kelas VI SD Santo Fransiskus III Suatu hari, hiduplah seorang gadis bernama Dewi. Ia yatim piatu sejak kecil, Sediri di dunia yang terasa begitu
“Jejak Persahabatan Andi dan Kilan”
Oleh:KEVIN GLENNICHOLAS BENEDICT SIMANJUNTAK (Kevin) (Siswa kelas VI SD St. Fransiskus III Jakarta) Di suatu desa yang tenang, diantara hijaunya pepohonan dan riuh tawa anak-a
Sebuah perpisahan
By:GOSYEN ZIO TIMOTY LAJANTO TJANDRA (Gosyen) Malam situasinya tenang penuh keheningan. Di bawah sinar rembulan yang lembut, Cristian dan Ifana berjalan beriringan di jalan k
Boneka Beruang, Sahabat Terbaikku
By:SYALOMITA EVANGELIS RONATIO PASARIBU (Shalom) (siswi kelas VI SD St.Fransiskus III Jakarta) Sore itu, mentari perlahan tenggelam di balik jendela rumah kecil milik keluarga
Kancing Ajaib Dan Pelajaran Kejujuran
By: ELORA ABIGAIL BUTAR BUTAR (Elora) Siswi Kelas VI SD Santo Fransiskus III Lia, siswi kelas enam yang cerdas dan rajin, memiliki sebuah kancing biru laut yang selalu ia simpan denga
Mengukir Masa Depan di Papan Tulis
By : MICHELLE GABRIELLA LIAUW ANN (Michelle) Siswi Kelas VI SD Santo Fransiskus III Di sebuah sekolah sederhana, di antara riuh tawa dan langkah terburu para siswa, ada seorang gadis
Langkah Kecil Menuju Mimpi Besar
By: GABRIELLE EIFFEL FRADYTHNASEARA SETIABUDI (Eiffel) Siswi Kelas VI SD Santo Fransiskus III Namanya Amira. Ia duduk di kelas 5 SD Mentari Pagi. Amira dikenal sebagai anak ya
BERUBAH SEBELUM TERLAMBAT
By: BRIGITTA RAISSA SAMANTHA GINTING (Brigita) (Brigita adalah siswi kelas VI SD St. Fransiskus III Jakarta) Setiap anak tentu ingin diakui dan disukai oleh teman-temannya. Namun tida
